Ariyah dari Ancol, Horor Sarat Makna
Pentas teater "Ariyah dari Jembatan Ancol" tidak sekadar menyuguhkan kisah horor legendaris, melainkan menghadirkan reinterpretasi yang menyentuh dan menggugah, menjadikannya sebagai panggung perlawanan perempuan terhadap ketidakadilan sosial lintas zaman.
Pentas teater "Ariyah dari Jembatan Ancol" yang digelar di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, belum lama ini berhasil mencuri perhatian publik. Diproduksi oleh Titimangsa bersama Bakti Budaya Djarum Foundation, pertunjukan ini menyajikan sesuatu yang lebih dari sekadar drama horor. Di balik ketegangan dan nuansa mistis, tersimpan kritik sosial yang kuat serta narasi baru yang menyoroti ketidakadilan, kekerasan terhadap perempuan, dan perlawanan terhadap kekuasaan yang menindas.
Cerita "Ariyah dari Jembatan Ancol" berakar dari legenda urban Jakarta yang sudah sangat dikenal masyarakat: kisah Si Manis Jembatan Ancol. Namun, dalam tangan kreatif sutradara Wawan Sofwan dan tim produksi Titimangsa, kisah ini tidak hanya dikisahkan ulang sebagai cerita hantu, melainkan direkonstruksi sebagai bentuk perlawanan seorang perempuan terhadap sistem yang menindasnya. Ariyah, yang diperankan dengan sangat apik oleh aktris Chelsea Islan, adalah seorang gadis Betawi pada abad ke-19 yang dipaksa menjadi jaminan utang ibunya oleh seorang juragan kaya. Tak hanya mengalami pengkhianatan dan kekerasan, Ariyah juga mengalami kematian tragis yang menjadi awal mula kemunculan kisah horor Jembatan Ancol.
Namun yang menjadikan pertunjukan ini berbeda adalah bagaimana kisah Ariyah melintasi waktu dan bertemu dengan Yulia, seorang perempuan masa kini yang diperankan oleh Mikha Tambayong. Yulia adalah seorang aktivis yang sedang memperjuangkan hak warga kampungnya agar tidak digusur oleh pengusaha serakah. Melalui pertemuan transdimensional yang sarat makna, Ariyah dan Yulia saling menguatkan sebagai sesama perempuan yang mengalami tekanan dari sistem patriarki dan ketidakadilan sosial.
Pertunjukan ini bukan hanya soal alur cerita yang emosional, namun juga menonjolkan kualitas produksi yang tinggi. Tata panggung dirancang dengan cermat untuk membangun suasana yang mendalam, termasuk efek kabut, pencahayaan yang dramatis, serta kejutan-kejutan teatrikal seperti kemunculan “hantu” langsung dari properti di atas panggung. Musik orkestra yang dipimpin oleh Achi Hardjakusumah menambah lapisan emosional pada setiap adegan, menjadikan pertunjukan ini pengalaman yang menggugah bagi para penontonnya.
Chelsea Islan, dalam wawancaranya, menyampaikan bahwa memerankan tokoh Ariyah membutuhkan persiapan yang cukup intens, termasuk mempelajari dialek Betawi dan menghayati penderitaan yang dialami tokohnya. Ia mengaku bahwa bermain dalam pertunjukan ini menjadi salah satu tantangan terbesar dalam kariernya sebagai aktris, karena karakter Ariyah menuntut penghayatan yang dalam dan emosi yang tajam.
Produser Pradetya Novitri dari Titimangsa menekankan bahwa pertunjukan ini adalah upaya untuk menampilkan sisi lain dari legenda-legenda lokal, terutama yang melibatkan perempuan. Ia berharap kisah seperti Ariyah dapat mendorong penonton untuk melihat cerita hantu bukan hanya sebagai hiburan, melainkan sebagai simbol dari trauma kolektif masyarakat yang selama ini tidak tersuarakan. “Selama ini, hantu perempuan selalu digambarkan sebagai makhluk jahat, padahal mereka adalah korban,” ujarnya.
"Ariyah dari Jembatan Ancol" membuktikan bahwa teater bukan hanya medium hiburan, tetapi juga sarana yang kuat untuk menyampaikan pesan sosial dan membangun empati. Di tengah geliat industri kreatif Indonesia, pertunjukan ini menjadi penanda penting bahwa seni pertunjukan lokal mampu tampil setara dengan karya-karya global—bukan hanya secara teknis, tetapi juga dalam kekuatan narasinya yang bermakna.