Demokrasi Seni Terancam di ISBI Bandung?

ISBI Bandung secara resmi mengeluarkan press release pada 16 Febuari 2025 mengenai pelarangan pementasan teater Wawancara dengan Mulyono di lingkungan kampus. Keputusan ini diambil dengan alasan menjaga netralitas akademik dari isu politik, setelah poster promosi pertunjukan dinilai mengandung muatan sensitif.


Gambar baliho Teater Payung Hitam yang dicopot di kampus ISBI Bandung. Foto: Dok.Teater Payung Hitam.

Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung menjadi sorotan setelah secara resmi melarang pementasan teater Wawancara dengan Mulyono. Keputusan ini diumumkan melalui press release yang dikeluarkan pada 16 Febuari 2025. ISBI Bandung beralasan bahwa pertunjukan tersebut mengandung unsur politik yang dapat memicu konflik di lingkungan akademik. Namun, keputusan ini menimbulkan kontroversi, terutama di kalangan seniman dan pegiat kebebasan berekspresi.

Kelompok Teater Payung Hitam (KPH) selaku penyelenggara awalnya merencanakan pementasan Wawancara dengan Mulyono pada 15 Febuari 2025 di Studio Teater ISBI Bandung. Poster promosi acara tersebut menampilkan sosok Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, yang kemudian menjadi pemicu larangan. Pihak kampus menilai bahwa pertunjukan ini dapat menimbulkan polemik karena berpotensi melibatkan isu politik dan identitas tertentu.

Sebelumnya, pihak ISBI telah melakukan komunikasi informal dengan KPH pada 24 Januari 2024 untuk membahas kekhawatiran mereka terkait pertunjukan ini. Namun, hingga mendekati hari pementasan, tidak ada kesepakatan yang dicapai antara kedua belah pihak. Akhirnya, ISBI Bandung mengambil langkah tegas dengan menggembok Studio Teater, yang menyebabkan pembatalan acara secara paksa.

Rektor ISBI Bandung, Retno Dwimarwati, menjelaskan bahwa pelarangan ini bukan bentuk sensor terhadap seni, melainkan langkah untuk menjaga netralitas akademik. Ia menegaskan bahwa kampus memiliki tanggung jawab untuk memastikan lingkungan akademik tetap kondusif dan bebas dari muatan politik yang dapat memecah belah mahasiswa. Retno juga menambahkan bahwa pihak kampus tidak ingin ada agenda tertentu yang masuk ke dalam ruang akademik yang seharusnya bersifat ilmiah dan objektif.

Namun, keputusan ini menuai kritik dari berbagai pihak. Sutradara Teater Payung Hitam, Rachman Sabur, menilai bahwa tindakan ISBI Bandung adalah bentuk pembungkaman seni dan menunjukkan ketakutan terhadap kritik dalam ruang publik. Menurutnya, kampus seni seharusnya menjadi tempat bagi kebebasan berekspresi dan diskusi terbuka, bukan malah membatasi ekspresi kreatif yang kritis terhadap isu sosial dan politik.

Beberapa pemerhati seni juga menyayangkan langkah ISBI Bandung yang dianggap bertentangan dengan prinsip kebebasan akademik. Mereka menilai bahwa kampus seni seharusnya menjadi ruang terbuka bagi berbagai gagasan, termasuk yang bersifat kritis. Pelarangan ini dinilai justru menciptakan pandangan buruk bagi kebebasan berkesenian di Indonesia.

Meski dilarang di ISBI Bandung, Teater Payung Hitam tidak menyerah. Mereka berencana menggelar pertunjukan Wawancara dengan Mulyono di Jakarta sebagai bentuk perlawanan terhadap pembatasan seni. Rencana ini juga menjadi ajang bagi masyarakat untuk melihat langsung isi pertunjukan dan menilai sendiri apakah ada unsur yang pantas untuk disensor.

Kasus ini mencerminkan kompleksitas hubungan antara seni, kebebasan berekspresi, dan politik di Indonesia. Di satu sisi, institusi pendidikan berupaya menjaga netralitasnya dari kepentingan politik tertentu. Namun, di sisi lain, seniman berhak mendapatkan ruang untuk berekspresi tanpa tekanan atau intervensi. Perdebatan ini menunjukkan perlunya dialog yang lebih terbuka antara pihak akademisi dan pelaku seni agar kebebasan berekspresi tetap terjaga tanpa mengorbankan nilai-nilai akademik dan kebebasan intelektual.

 

sumber: https://isbi.ac.id/press-release-mengenai-pelarangan-pertunjukan-wawancara-dengan-mulyono-di-lingkungan-institut-seni-budaya-indonesia-bandung/ 



Postingan populer dari blog ini

Arifin C. Noer, Maestro Teater Sepanjang Masa

Sebuah Karya Untuk Merayakan Perempuan

Menjejak Salihara, Rumah Seni yang Merawat Kebebasan dan Gagasan