Bukan Sekadar Teater, Ini Perjuangan Komunitas Tuli Indonesia


          Penampilan Teater Senandung Senyap yang diadakan di Ciputra Artpreneur (Sumber: VOA Indonesia)

Tak ada suara terdengar dari bibir mereka, tapi gerakan tangan, getaran musik, dan ekspresi wajah bercerita lebih dari kata-kata. Di atas panggung Ciputra Artpreneur, Jakarta, kelompok Fantasi Tuli menampilkan Senandung Senyap, musikal pertama di Indonesia yang diperankan mayoritas oleh penyandang disabilitas pendengaran. Bukan hanya sebuah pertunjukan seni, tetapi cermin keberanian komunitas tuli untuk menyampaikan suara mereka, bukan lewat bunyi, tapi lewat rasa.

Sejarah baru dalam dunia seni pertunjukan Indonesia ditorehkan oleh Fantasi Tuli, sebuah kelompok teater musikal inklusif yang terdiri dari para penyandang disabilitas pendengaran. Pada 26 Oktober 2024, mereka memukau penonton lewat pertunjukan perdana bertajuk Senandung Senyap di Ciputra Artpreneur, Jakarta. Pentas ini bukan hanya karya seni biasa, melainkan tonggak perubahan dalam cara masyarakat melihat komunitas tuli di panggung seni.

Fantasi Tuli dibentuk sebagai wadah ekspresi seni bagi teman-teman tuli, sekaligus ruang belajar untuk saling memahami antara yang mendengar dan yang tidak. Kelompok ini menggabungkan aktor tuli dan pendengar dalam satu panggung, menyatukan bahasa isyarat, musik, dan teater dalam satu harmoni visual dan emosional yang kuat. Gagasan ini dipelopori oleh sutradara Hasna Mufidah dan Helga Theresia, yang terinspirasi dari Deaf West Theatre di Amerika Serikat.

Dengan melibatkan lebih dari 60 anggota tuli, baik di depan maupun di belakang panggung, Fantasi Tuli membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah hambatan untuk berkarya. Selama tiga bulan latihan intensif, para aktor belajar menyampaikan emosi dan narasi lewat bahasa isyarat, ekspresi wajah, gerak tubuh, serta memahami ritme melalui getaran dari subwoofer. Musik dalam pertunjukan ini menjadi sarana rasa, bukan suara.

Pertunjukan Senandung Senyap sendiri mengangkat kisah perjuangan siswa tuli di sekolah menengah yang tidak menyediakan pendidikan berbasis bahasa isyarat. Mereka dipaksa belajar dengan cara membaca bibir dan bicara, yang justru menyulitkan proses belajar mereka. Cerita ini berakar dari pengalaman nyata anggota Fantasi Tuli, menjadikan panggung sebagai ruang pengakuan dan perlawanan terhadap sistem pendidikan yang belum inklusif.

Muhammad Arsya Alamsyah, salah satu aktor tuli, menyampaikan bahwa teater ini menjadi panggung aktualisasi diri bagi komunitas tuli. "Kami ingin menunjukkan bahwa tuli bukan hambatan. Kami bisa tampil, berkarya, dan membuat orang mendengar lewat mata dan hati," ujarnya.

Rekan aktor lain, Hanna Aretha Oktavia, yang baru belajar bahasa isyarat saat bergabung dalam proyek ini, merasa pengalaman ini membuka cara pandangnya terhadap dunia tuli. “Saya belajar bahasa baru, budaya baru, dan cara merasakan musik yang sama sekali berbeda,” katanya.

Fantasi Tuli juga melibatkan sejumlah aktor pendengar yang harus belajar berkomunikasi lewat bahasa isyarat. Bagi mereka, pengalaman ini bukan sekadar akting, tapi proses membangun empati dan koneksi yang lebih dalam dengan rekan-rekan tuli.

Lebih dari sekadar pertunjukan, Fantasi Tuli hadir sebagai gerakan budaya. Mereka mengajak masyarakat untuk lebih menghargai perbedaan dan memperjuangkan kesetaraan akses di bidang seni, pendidikan, dan kehidupan sehari-hari. Pertunjukan ini menjadi panggilan untuk melihat komunitas tuli bukan sebagai objek belas kasihan, tapi subjek yang kuat dan layak mendapat ruang.

Dengan Fantasi Tuli, seni pertunjukan Indonesia tidak hanya menjadi lebih inklusif, tapi juga lebih jujur dan berani. Sebuah suara yang senyap, namun nyaring terasa.

Postingan populer dari blog ini

Arifin C. Noer, Maestro Teater Sepanjang Masa

Sebuah Karya Untuk Merayakan Perempuan

Menjejak Salihara, Rumah Seni yang Merawat Kebebasan dan Gagasan