Selamat Jalan, Maestro! Salam Terakhir untuk Subarkah Hadisarjana

Keheningan menyelimuti dunia teater Indonesia setelah kabar duka datang dari panggung yang pernah bersinar berkat sentuhannya. Subarkah Hadisarjana, tokoh penting di balik riasan dan peran-peran kuat dalam seni pertunjukan, menghembuskan napas terakhirnya pada usia 66 tahun. Sosok yang dikenal setia pada dunia seni ini telah menorehkan jejak panjang, tak hanya sebagai aktor, tetapi juga sebagai guru dan perias yang membawa warna khas dalam setiap karyanya.



                                Subarkah Hadisarjana, Aktor Sekaligus Penata Rias (sumber: KapanLagi.com)

Dunia seni pertunjukan Indonesia kembali berduka. Subarkah Hadisarjana, seorang tokoh penting di balik panggung dan layar, telah berpulang pada Selasa, 11 Maret 2025 pukul 00.50 WIB di RS Sentra Medika Cimanggis, Depok. Pria yang dikenal sebagai aktor, penata rias, dan pendidik ini menghembuskan napas terakhirnya di usia 66 tahun setelah berjuang melawan kanker selama tiga tahun terakhir.

Lahir di Pare, Kediri, Jawa Timur pada 25 Juni 1958, Subarkah telah terlibat dalam dunia seni sejak usia muda. Kariernya di dunia teater dimulai sejak tahun 1960-an bersama Teater Populer, dan kemudian bergabung dengan Teater Koma, kelompok teater legendaris yang menjadi rumah bagi banyak seniman besar Indonesia. Di Teater Koma, Subarkah bukan hanya tampil sebagai aktor, tetapi juga dikenal lewat keahliannya sebagai penata rias dan penata artistik. Ia kerap disebut sebagai “maestro di balik layar”, karena ketekunannya membentuk wajah para aktor menjadi karakter-karakter yang memikat penonton.

Keahliannya tidak hanya diakui di dalam negeri. Subarkah pernah turut serta dalam tur internasional bersama Teater Kecil, tampil di negara-negara Asia Tenggara seperti Filipina, Malaysia, dan Singapura, hingga ke Amerika Serikat dalam program Kebudayaan Indonesia di Amerika Serikat (KIAS). Pengalamannya di luar negeri itu memperkaya perspektif seninya dan menjadikannya panutan bagi banyak seniman muda.

Tak hanya berkecimpung di panggung teater, Subarkah juga aktif di dunia film dan televisi. Ia terlibat sebagai penata rias dalam film legendaris “Pengkhianatan G30S/PKI” (1982), dan tampil sebagai aktor dalam berbagai judul film seperti “Kipas-kipas Cari Angin” (1989), “Petualangan 100 Jam” (2004), dan “Get Married 3” (2011). Di layar kaca, ia juga muncul dalam sinetron populer seperti “Si Doel Anak Sekolahan” dan “Cintaku di Rumah Susun”, yang semakin mengukuhkan eksistensinya sebagai aktor serba bisa.

Selain dikenal sebagai seniman, Subarkah juga memiliki peran penting sebagai pendidik. Ia menjadi dosen di Program Studi Desain Produk (Mode) Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Bahkan, ia sempat menjabat sebagai Wakil Dekan III Seni Rupa IKJ dan kemudian menjadi Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan. Di lingkungan akademik, Subarkah dikenang sebagai sosok yang ramah dan hangat, namun tetap disiplin dan berdedikasi tinggi dalam mendidik mahasiswanya.

Kabar duka mengenai kepergiannya disampaikan oleh Rangga Riantiarno, sutradara Teater Koma sekaligus kolega dekat Subarkah, melalui unggahan di Instagram. Dalam unggahannya, Rangga menuliskan rasa kehilangan yang mendalam, mengenang Subarkah sebagai sosok yang penuh semangat, telaten, dan berjiwa seni tinggi. Ia juga menyebut bahwa wajahnya pernah menjadi “kanvas” dari karya-karya rias Subarkah yang sangat artistik dan ikonik.

Putra Subarkah, Danan, menceritakan bahwa ayahnya telah cukup lama menjalani pengobatan kanker. Awalnya, penyakit tersebut terdeteksi di bagian THT, dan sejak itu Subarkah menjalani serangkaian kemoterapi dan radiasi. Meski fisiknya melemah, semangatnya untuk tetap berkarya tak pernah padam. Bahkan hingga tahun-tahun terakhirnya, ia masih aktif sebagai penata rias, pengajar, dan sesekali naik ke atas panggung.

Jenazah Subarkah disemayamkan di kediamannya di kawasan Pondok Tirta Mandala, Depok, sebelum kemudian dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tapos, Bogor, Jawa Barat. Kehilangan sosok seperti Subarkah tentu menjadi duka mendalam tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi dunia seni Indonesia.

Warisan yang ditinggalkan oleh Subarkah Hadisarjana tidaklah sedikit. Ia adalah bukti bahwa peran di balik layar sama pentingnya dengan mereka yang berada di depan panggung. Lewat tangan dan dedikasinya, wajah-wajah karakter dalam teater dan film menjadi lebih hidup dan meyakinkan. Lebih dari itu, semangatnya dalam membagikan ilmu dan pengalaman menjadikannya teladan yang tak tergantikan di hati para seniman muda. Namanya mungkin tak selalu disorot kamera, namun karya dan pengaruhnya akan terus melekat dalam sejarah seni pertunjukan Indonesia. Selamat jalan, Subarkah Hadisarjana. Terima kasih telah mewarnai dunia seni dengan cinta dan ketulusan.

Postingan populer dari blog ini

Arifin C. Noer, Maestro Teater Sepanjang Masa

Sebuah Karya Untuk Merayakan Perempuan

Menjejak Salihara, Rumah Seni yang Merawat Kebebasan dan Gagasan