Seni Butuh Nafas, Bukan Sekadar Tontonan
Minimnya dukungan pemerintah terhadap dunia seni pertunjukan di Indonesia kembali disoroti para pelakunya. Salah satunya adalah Venytha Yoshiantini, pendiri Teater Musikal Nusantara (TEMAN), yang mengungkapkan bahwa para seniman teater masih harus berjuang sendiri untuk mempertahankan eksistensi, karena bantuan yang diberikan pemerintah dinilai belum menyentuh pengembangan ekosistem seni secara menyeluruh.
Di balik sorotan lampu dan tepuk tangan penonton, dunia seni pertunjukan di Indonesia menyimpan kenyataan yang tak selalu seindah yang terlihat di atas panggung. Para pelaku teater, salah satunya Venytha Yoshiantini—pendiri Teater Musikal Nusantara (TEMAN)—menyuarakan kegelisahan mereka tentang kurangnya dukungan dari pemerintah terhadap seni, khususnya teater. Dalam keseharian para seniman, perjuangan untuk tetap eksis lebih sering dilakukan secara mandiri, dengan semangat dan idealisme yang tinggi, namun sayangnya tidak sebanding dengan dukungan yang diterima.
Menurut Veny, bantuan dari pemerintah memang ada, namun sebagian besar hanya menyentuh permukaan. Ia menyebutkan bahwa dukungan yang diberikan lebih kepada kegiatan yang tampak di luar, seperti acara atau festival, bukan pada pengembangan ekosistem keseniannya itu sendiri. Hal ini menjadikan pelaku seni kerap bergantung pada sponsor atau bantuan dari pihak swasta melalui program CSR yang sifatnya tidak pasti dan bisa berubah sewaktu-waktu tergantung anggaran tahunan.
Berbeda halnya dengan pengalamannya saat berkarya di Singapura. Di negara tersebut, pemerintah memiliki peran yang sangat besar dalam menjaga dan mengembangkan industri seni. National Art Council misalnya, memberikan subsidi langsung kepada kelompok seni dan seniman, sehingga mereka bisa fokus berkarya tanpa harus terus-menerus mencari pendanaan tambahan. Bahkan, pertunjukan teater di sana bisa berjalan dalam jangka waktu panjang, tidak hanya sekali dua kali pentas lalu selesai seperti yang umum terjadi di Indonesia. Ini memperlihatkan bagaimana seni dipandang sebagai profesi yang bisa diandalkan, bukan sekadar hobi atau kegiatan selingan.
Veny juga menyampaikan bahwa di Indonesia, banyak seniman harus merelakan waktu dan tenaga mereka tanpa bayaran yang layak, karena budaya “sukarela” masih sangat melekat. Praktik ini sering kali membuat seniman kesulitan menjadikan seni sebagai pekerjaan utama. Mereka harus mencari penghasilan dari tempat lain, sementara kecintaan terhadap teater tetap dijaga dengan segala keterbatasan yang ada. Hal ini jelas menjadi tantangan besar jika ingin menjadikan industri pertunjukan di Indonesia berkembang secara profesional.
Meski demikian, harapan belum sepenuhnya padam. Pemerintah mulai menunjukkan itikad baik dengan menghadirkan Dana Abadi Kebudayaan atau Dana Indonesiana, yang ditujukan untuk mendukung kegiatan kebudayaan secara lebih berkelanjutan. Tidak terikat oleh batasan tahun anggaran seperti APBN, dana ini memungkinkan pelaku seni untuk mengakses bantuan secara lebih fleksibel, terutama di masa sulit seperti pandemi. Tujuannya adalah agar para seniman tetap bisa berkarya dan menjaga keberlangsungan budaya lokal.
Beberapa waktu lalu, pemerintah juga menyampaikan rencana untuk memperluas bentuk dukungan terhadap para maestro seni dan budaya, termasuk dengan pemberian jaminan sosial ketenagakerjaan. Langkah ini patut diapresiasi sebagai bentuk pengakuan atas jasa para seniman yang telah mengabdikan hidupnya demi menjaga warisan budaya bangsa. Namun, tentu saja, realisasi dan pengawasan pelaksanaan program ini akan sangat menentukan apakah benar-benar efektif atau hanya menjadi program simbolik belaka.
Indonesia, dengan kekayaan budayanya yang luar biasa, seharusnya mampu menjadikan seni pertunjukan sebagai bagian penting dalam pembangunan nasional, bukan sekadar pelengkap hiburan. Dibutuhkan keseriusan dari semua pihak—pemerintah, swasta, dan masyarakat—untuk mewujudkan hal ini. Para pelaku seni sudah menunjukkan komitmen dan kerja keras mereka. Sekarang, giliran negara hadir, bukan hanya sebagai penonton, tapi sebagai pendukung utama di balik layar.
Panggung seni Indonesia akan terus menyala, selama ada semangat dari para seniman dan dukungan nyata dari yang berwenang. Karena dari panggung kecil itulah, karakter, nilai, dan identitas bangsa ikut dibentuk dan diwariskan dari generasi ke generasi.